Pemberdayaan Komunitas
Pemberdayaan adalah tindakan sosial warga sebuah komunitas untuk mengorganisasikan diri dalam membuat perencanaan dan tindakan bersama untuk memecahkan masalah atau memenuhi kebutuhan mereka sesuai dengan kemampuan dan sumberdaya yang mereka miliki.
Secara konseptual, pemberdayaan atau pemberkuasaan (empowerment), berasal dari kata ‘power’ (kekuasaan atau keberdayaan). Karenanya, ide utama pemberdayaan bersentuhan dengan konsep mengenai kekuasaan. (Bdk. Edi Suharto. “Pendampingan Sosial dalam Pemberdayaan Masyarakat Miskin: Konsepsi dan Strategi“. Artikel. www.policy.hu/suharto/modul_a/ makindo_32.htm).
Namun, “daya” bisa pula diartikan sebagai “potensi”, “energi”, dan “kekuatan” sehingga pemberdayaan berarti pemunculan dan penguatan potensi-potensi, enerji-enerji, dan kekuatan-kekuatan yang dimiliki warga komunitas untuk membangun kehidupan mereka menjadi lebih baik. (Bdk. Nota Pastoral KWI 2006. Habitus Baru: Ekonomi yang Berkeadilan. Keadilan Bagi Semua: Pendekatan Sosio-Ekonomi. No. 17 hlm. 23, no. 30 hlm. 36-38).
Selain itu, J. Rappaport dalam bukunya Studies in Empowerment: Introduction to the Issue, Prevention In Human Issue (1984) menjelaskan bahwa pemberdayaan bisa diartikan sebagai suatu cara dengan mana rakyat, organisasi, dan komunitas diarahkan agar mampu menguasai (atau berkuasa atas) kehidupannya (Bdk. Rappaport, 1984: 3).
Sementara, dalam pendekatan yang sedikit berbeda, Ruth J. Parsons, James D. Jorgensen, dan Santos H. Hernandez dalam bukunya The Integration of Social Work Practice (1994) mengartikan pemberdayaan sebagai sebuah proses di mana orang menjadi cukup kuat untuk berpartisipasi dalam, berbagi pengontrolan atas, dan memengaruhi kejadian-kejadian serta lembaga-lembaga yang mempengaruhi kehidupan mereka. Pemberdayaan menekankan bahwa orang memperoleh keterampilan, pengetahuan, dan kekuasaan yang cukup untuk mempengaruhi kehidupannya dan kehidupan orang lain yang menjadi perhatiannya.
Bertolak dari beberapa konsep tentang pemberdayaan tersebut, pemberdayaan komunitas memiliki sejumlah aspek penting, yakni:
- Tindakan sosial yang berproses. Pemberdayaan tidak mungkin bisa instan, tidak mungkin sekali jadi, tapi membutuhkan proses.
- Perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan tindakan. Pemberdayaan meliputi kegiatan merencanakan, mengorganisasikan, dan melaksanakan tindakan sosial/bersama.
- Dilakukan secara bersama-sama. Pemberdayaan tidak bisa dilakukan sendiri, atau tergantung pada pihak tertentu, melainkan dilakukan oleh para anggota komunitas secara bersama-sama, dalam kerja sama, saling tergantung satu sama lain.
- Bertujuan untuk mendorong komunitas basis agar mampu: memecahkan masalah, memenuhi kebutuhan, berpartisipasi dalam kejadian-kejadian dan lembaga-lembaga yang memengaruhi kehidupan komunitas, ikut mengontrol kejadian-kejadian dan lembaga-lembaga yang memengaruhi kehidupan komunitas, memengaruhi kejadian-kejadian dan lembaga-lembaga yang memengaruhi kehidupan komunitas, menguasai/berkuasa atas kehidupan mereka dan komunitas, dan mengusahakan kehidupan bersama yang lebih baik dalam komunitas, mensyaratkan dimilikinya ketrampilan, pengetahuan, dan kekuasaan/kekuatan yang cukup pada diri para anggota komunitas.
Lebih lanjut, aspek-aspek pemberdayaan komunitas di atas bisa dirumuskan sebagai indikator keberdayaan komunitas itu sendiri. Artinya, komunitas bisa dinilai telah berdaya jika: terus berproses merencanakan, mengorganisasikan, dan melaksanakan tindakan sosial/ bersama, mampu memecahkan masalah dan memenuhi kebutuhan komunitas (secara mandiri), mampu berpartisipasi dalam kejadian-kejadian atau lembaga-lembaga yang memengaruhi komunitas, ikut mengontrol dan memengaruhi kejadian-kejadian dan lembaga-lembaga itu, mampu berkuasa atas kehidupan komunitas itu sendiri (sehingga kehidupan mereka tidak terlalu dikuasai/ditentukan pihak lain), dan anggota-anggotanya memiliki pengetahuan, ketrampilan, dan kekuatan yang memadai.
Peran Pendamping/Penggerak
Berdayanya komunitas bukan kondisi yang turun dari langit begitu saja, melainkan butuh upaya sengaja dan serius, termasuk (salah satunya) upaya para pendamping/penggerak komunitas. Dalam hal itu, pendamping/penggerak komunitas tidak ditekankan pada status atau jabatan seseorang, melainkan pada fungsi atau peran yang dikerjakan.
Beberapa fungsi/peran pendamping/penggerak pemberdayaan komunitas, misalnya:
- Memotivasi para anggota komunitas agar ikut terlibat terus-menerus dalam proses pemberdayaan.
- Meningkatkan/melatih kesadaran, pengetahuan, spiritualitas, dan ketrampilan/kemampuan para anggota komunitas.
- Mendorong manajemen diri para anggota komunitas agar mampu memilih pemimpin mereka sendiri, mengatur kegiatan mereka sendiri (misalnya mengadakan pertemuan, melakukan pencatatan dan pelaporan, mengelola konflik, dan mengelola kepemilikan, serta mengembangkan sebuah sistem yang mengatur semua itu atas dasar kesepakatan bersama).
- Mendorong dilakukannya mobilisasi (penghimpunan), alokasi (penempatan), dan penggunaan sumber daya individual para anggota komunitas yang disumbangkan untuk kepentingan komunitas, misalnya dana, peralatan dan perlengkapan tulis-menulis, kepustakaan, buku-buku, atau bahan bacaan (reading materials).
- Mendorong pembangunan dan pengembangan jaringan kerja sama dengan pihak-pihak lain (individu, kelompok, lembaga) yang disertai dengan peningkatan kemampuan para anggota komunitas untuk membangun dan mempertahankan jaringan itu. Jaringan ini sangat penting dalam menyediakan dan mengembangkan berbagai akses terhadap sumber dan kesempatan bagi peningkatan keberdayaan mereka.
(Bdk. Edi Suharto. “Pendampingan Sosial dalam Pemberdayaan Masyarakat Miskin: Konsepsi dan Strategi“. Artikel. www.policy.hu/suharto/modul_a/ makindo_32.htm).
Fungsi/peran yang lain masih bisa ditambahkan dari daftar di atas, sejauh sesuai dengan tujuan pemberdayaan komunitas seperti yang diuraikan dalam konsep-konsep di atas.
Lebih lanjut, fungsi/peran di atas sekaligus bisa dimanfaatkan sebagai sejumlah standar kualifikasi (kelayakan) alternatif (tidak mutlak) pendamping/penggerak komunitas. Artinya, pendamping/penggerak komunitas yang ideal adalah seseorang yang mampu melakukan sejumlah fungsi/peran di atas dengan baik dan efektif/mencapai tujuan atau berdampak positif bagi komunitas yang didampingi/digerakkannya.
Membangun Kapasitas Pendamping/Penggerak Komunitas
Sebagaimana keberdayaan komunitas tidak turun dari langit, demikian juga pendamping/penggerak komunitas pun muncul karena kerelaan dan upaya keras sejumlah orang untuk terlibat sebagai pendamping/ penggerak, (tentu saja) dengan kekuatan dan kelemahan masing-masing. Khusus untuk mengatasi kelemahan-kelemahan mereka, perlu proses pembangunan kemampuan/kapasitas (capacity building) untuk memperluas pengetahuan, memperkritis cara berpikir, memperdalam spiritualitas, menguatkan motivasi, dan meningkatkan keterampilan.
Sejumlah cara untuk membangun kapasitas pendamping/penggerak komunitas misalnya:
- membaca buku, mencari informasi dari media massa (untuk memperluas pengetahuan dan memperkritis cara berpikir).
- berdiskusi, berdialog, mengadakan/mengikuti sarasehan/seminar (untuk memperluas pengetahuan dan memperkritis cara berpikir).
- melakukan refleksi, ibadat, dan doa memperdalam spiritualitas dan menguatkan motivasi.
- mengadakan/mengikuti pelatihan (untuk meningkatkan keterampilan, meskipun biasanya pengetahuan dan motivasi ditingkatkan juga dalam kegiatan ini).
- mengadakan/mengikuti workshop/lokakarya (biasanya secara khusus untuk merancang-bangun perangkat kerja bersama dalam pemberdayaan komunitas, misalnya merancang sistem pengelolaan dan program komunitas, sistem keuangan, bahan pendampingan, dsb., meskipun bisa juga sekaligus untuk meningkatkan pengetahuan, spiritualitas, dan ketrampilan).
salam kenal, bagus sekali tulisanya saya peminat kajian pemberdayaan komunitas,smoga bisa bermanfaat,trimkasih
Jatmiko, salam kenal juga …. dan terima kasih atas apresiasi yg diberikan. Mari belajar bersama. Okay?
Super site, and nice text.
artikelnya sangat bagus,
saya ingin tanya, referensi bukunya apa ya?
@Nurisannisa: thx comment-nya. Artikel ini tak banyak memuat referensi dr sumber luar, tapi lbh didasari observasi & pengalaman saya sendiri selama ini.