Tulisan ini sekadar memperkenalkan Riset Aksi Partisipatoris sebagai paradigma berpikir dan bersikap, metodologi, dan alat kerja para penggerak masyarakat. Tujuannya adalah untuk membuka wawasan kita bersama atas kekayaan dunia riset dalam perkembangan akademik maupun kontekstualisasinya dalam perubahan sosial, terlebih dalam konteks pemberdayaan komunitas/masyarakat.
Riset Aksi Partisipatoris
Riset (research-Ingg.) adalah kegiatan meneliti, memelajari, dan mengambil makna atas sesuatu. Sedangkan meneliti itu sendiri berarti mencermati atau memerhatikan sesuatu secara lebih serius dan teliti. Maka riset mengandung makna suatu kegiatan mencermati, memelajari, dan mengambil makna dari sesuatu yang nyata-nyata terjadi secara lebih serius dan teliti.
Sementara itu, RAP diartikan sebagai kegiatan riset yang dilaksanakan secara partisipatif di antara masyarakat warga dalam suatu komunitas/lingkup sosial yang lebih luas untuk mendorong terjadinya aksi-aksi transformatif (perubahan kondisi hidup yang lebih baik). Dengan demikian, RAP tidak berhenti pada kegiatan riset semata, namun berlanjut pada pemberdayaan anggota komunitas secara partisipatif untuk melakukan sejumlah aksi demi perbaikan kondisi hidup mereka sendiri.
RAP muncul sebagai pengembangan riset-riset konvensional sebelumnya. Perbedaannya dari riset-riset konvensional adalah bahwa peneliti/praktisi RAP tidak mengambil jarak dari situasi masyarakat yang diteliti seperti dalam riset-riset konvensional, melainkan melebur ke dalamnya dan bekerja bersama warga masyarakat setempat dalam melakukan RAP. RAP membahas kondisi masyarakat berdasarkan sistem makna yang berlaku di situ, bukan menurut disiplin ilmu tertentu di luar budaya masyarakat tersebut. RAP tak bisa lagi berposisi “bebas nilai” dan tidak memihak seperti yang dituntut ilmu pengetahuan sebagai syarat obyektivitas, melainkan harus memihak pada kelompok yang lemah, miskin, dirugikan, dan menjadi korban.
Selain itu, RAP tidak berhenti pada publikasi hasil riset (laporan) dan rekomendasi pengembangan atau usulan riset berikutnya, melainkan berorientasi pada perubahan situasi, peningkatan pengetahuan dan kemampuan masyarakat warga untuk memahami dan mengubah situasi mereka menjadi lebih baik. Singkatnya, RAP sungguh-sungguh mengambil bagian dalam proses penyadaran dan pemberdayaan masyarakat seperti yang diteladankan Paulo Freire dari Brasil sejak tahun 1960-an dan para pengikutnya yang terus berkembang dewasa ini (bdk. Freire, 1972; Freire, 2001).
Sesuai istilahnya, RAP memiliki tiga pilar utama, yakni metodologi riset, dimensi partisipasi, dan dimensi aksi. Sebagai sebuah riset, RAP mengacu pada sejumlah metodologi ilmiah yang sudah dikembangkan selama ini, khususnya dalam pendekatan fenomenologis dan kualitatif. Seluruh pengumpulan dan pengolahan data dilakukan bersama anggota komunitas secara partisipatif. Peneliti/praktisi RAP tidak pernah bekerja sendirian. Ia lebih memfungsikan dirinya sebagai fasilitator bagi anggota komunitas dalam memahami situasi mereka sendiri dalam rangkaian kegiatan RAP.
Semakin banyak anggota komunitas terlibat dalam RAP, semakin baik. Selanjutnya, RAP harus melahirkan gagasan-gagasan, rencana-rencana, dan kesepakatan-kesepakatan di antara anggota komunitas untuk melakukan aksi-aksi tertentu untuk memperbaiki kondisi hidup mereka bersama, berdasarkan temuan-temuan bersama pula dari kegiatan pengumpulan dan pengolahan data.
Paradigma dan Pendekatan RAP
RAP lebih didasari paradigma (cara berpikir) fenomenologis, atau seringkali pula disebut paradigma interpretivisme, subyektifisme atau definisi sosial. Paradigma ini didasari asumsi bahwa realitas sosial berlaku secara khas, subyektif dan kontekstual secara ruang dan waktu, sehingga peneliti perlu memahaminya dengan cara menginterpretasikan fenomena tersebut secara mendalam dalam konteksnya yang khas, tanpa perlu merisaukan representasinya atas fenomena lain yang sejenis, yang biasa dilakukan dengan analisis statistika sesuai paradigma fungsionalisme, obyektifisme atau fakta sosial (bdk. Sanapiah Faisal. “Filosofi dan Akar Tradisi Penelitian Kualitatif”, dalam Burhan Bungin, 2003:3-17.). Pendekatan ini dipilih karena situasi dan masalah yang diteliti bukan berujud sesuatu yang sangat terukur secara kuantitatif, melainkan situasi dan masalah yang masih sedang berkembang dan mungkin memiliki beragam aspek sosial.
Berdasar paradigma tersebut, pendekatan RAP sesungguhnya lebih bersifat kualitatif daripada kuantitatif. Namun, hal ini tidak menghalangi dimanfaatkan data-data yang bersifat kuantitatif dan metode-metode pengumpulan dan analisis data kuantitatif dalam RAP, dengan catatan kuantifikasi situasi sekadar sebagai alat bantu dan tidak boleh mereduksi fenomena sosial yang faktual terjadi dan dipahami melalui RAP itu sendiri.
Prinsip-Prinsip RAP
Terdapat sejumlah prinsip yang memandu pelaksanaan RAP.
Pertama, prinsip Partisipasi. Prinsip ini mengharuskan RAP dilaksanakan dengan melibatkan sebanyak mungkin anggota komunitas yang berkepentingan dengan perubahan situasi yang lebih baik. Dengan prinsip ini, RAP dilakukan bersama di antara anggota komunitas melalui proses berbagi dan belajar bersama, untuk memperjelas kondisi dan permasalahan mereka sendiri. Prinsip ini juga menuntut penghargaan pada setiap perbedaan yang melatarbelakangi anggota komunitas saat terlibat dalam RAP, termasuk penghargaan pada kesetaraan jender (terlebih jika dalam suatu komunitas, perempuan belum memeroleh kesempatan yang setara dengan laki-laki untuk berpartisipasi).
Berbeda dengan riset konvensional, tim peneliti/praktisi RAP bertindak sebagai fasilitator terjadinya proses riset yang partisipatif di antara anggota komunitas, bukan orang yang meneliti kondisi komunitas dari luar sebagai pihak asing.
Kedua, prinsip Orientasi Aksi. Prinsip ini menuntut seluruh kegiatan dalam RAP harus mengarahkan anggota komunitas untuk melakukan aksi-aksi transformatif mengubah kondisi sosial mereka agar menjadi semakin baik. Oleh karena itu, RAP harus memuat agenda aksi yang jelas, terjadwal, dan konkret.
Ketiga, prinsip Triangulasi. RAP harus dilakukan dengan menggunakan berbagai sudut pandang, metode, alat kerja yang berbeda untuk memahami situasi yang sama, agar pemahaman tim peneliti bersama anggota komunitas terhadap situasi tersebut semakin lengkap dan sesuai dengan fakta. Setiap informasi yang diperoleh harus diperiksa ulang lintas kelompok warga/elemen masyarakat (crosscheck). Prinsip ini menuntut RAP mengandalkan data-data primer yang dikumpulkan sendiri oleh peneliti bersama anggota komunitas di lapangan. Sedangkan data-data sekunder (riset lain, kepustakaan, statistik formal) dimanfaatkan sebagai pembanding.
Keempat, prinsip Luwes atau Fleksibel. Meskipun RAP dilakukan dengan perencanaan sangat matang dan pelaksanaan yang cermat atau hati-hati, peneliti bersama anggota komunitas harus tetap bersikap luwes menghadapi perubahan situasi yang mendadak, agar mampu menyesuaikan rencana semula dengan perubahan tersebut. Bukan situasinya yang dipaksa sesuai dengan desain riset, melainkan desain riset yang menyesuaikan diri dengan perubahan situasi.
Metode dan Alat Kerja RAP
Secara umum, metode RAP terbagi dalam dua tipe, yakni Eksplanatif dan Tematik. RAP Eksplanatif memfasilitasi komunitas/masyarakat untuk menganalisis kebutuhan, permasalahan, dan solusinya, kemudian merencanakan aksi transformatif. Sedangkan RAP Tematik menganalisis program yang sudah berjalan, sebagai alat evaluasi dan pengamatan (monitoring).
Memanfaatkan kekayaan riset-riset konvensional yang masih terus berkembang, RAP melengkapi diri dengan banyak metode dan alat kerja. Untuk mengumpulkan data lapangan dan menganalisisnya, RAP memiliki metode pemetaan lokasi melalui kegiatan kunjungan lapangan (transect), wawancara mendalam (in-depth interview) dan diskusi kelompok terfokus (focus group discussion/FGD).
Dalam FGD misalnya, partisipan atau informan tidak sebatas berdiskusi dalam posisi duduk, melainkan bisa berdiskusi dalam dinamika tertentu dengan menggunakan alat kerja tertentu, misalnya pemetaan gagasan (mind mapping), menggambar diagram pohon masalah (problem tree), menulis peringkat kualitas (ranking), menggambar diagram keterkaitan (linkage diagram), hingga bermain peran (role play) kemudian mendialogkan peran masing-masing dalam konteks situasi yang dimaksud.
Dalam dinamika tersebut, anggota komunitas sebagai partisipan RAP berpeluang lebih besar mengungkapkan pengalaman, gagasan, dan refleksi mereka secara lebih terbuka karena terbantu dengan sejumlah alat kerja yang memudahkan pengamatan (visual) dan kegiatan yang dinamis/tidak kaku. Dinamika tersebut juga memudahkan fasilitator untuk mendorong sebanyak mungkin anggota komunitas berpartisipasi lebih aktif karena menggunakan kegiatan dan alat kerja yang bisa dipilih atas dasar kesesuaiannya dengan latar belakang budaya, pendidikan, dan pekerjaan partisipan/informan.
Salam kenal.. BAgus! sudah mengantarkan motivasi untuk bergerak dari penelitian bebas nilai ke penelitian yang berphak pada korban atau pada kelompok yang lemah. Numpang tanya barankali anda atau teman anda punya pengalaman melaksanakan riset aksi untuk program penguatan keluarga TKI di Indramayu atau daerah lain. jika tidak keberatan mhn proses dan hasilnya dishare ke saya dialamat ini. Tk
Ibu Maria Ulfah Anshor, terima kasih apresiasinya. Mohon maaf saya tidak mempunyai pengalaman, bahan2 dan perangkat pemanfaatan RAP dlm kasus TKI maupun penguatan keluarga mereka. Namun kita bisa merancang praktik RAP tersebut dlm kerangka program pemberdayaan yg Ibu maksud. Kapan2 kita bisa diskusikan bagaimana merancang dan mengelolanya lebih lanjut. Terima kasih. (Note: salam dari Daniel Awigra, Bu …)
Hi there may I use some of the information here in this post if I provide a link back to your site?
hey great information your site contains will return when I have time to read more.
Thank you for the sensible critique. Me and my neighbor were just preparing to do some research about this. We got a grab a book from our local library but I think I learned more from this post. I am very glad to see such great information being shared freely out there.
Thank you for another fantastic blog. Where else could I get this kind of info written in such an incite full way? I have been looking for such information.