Banyak orang ngeri menonton film 2012 dan khawatir jika kiamat sungguh terjadi seperti yang diilustrasikannya. Betapa tidak? Kiamat 2012 dikreasi begitu dahsyat dalam film itu. Benua dipatah-patahkan oleh gempa belasan skala Richter yang meluluhlantakkan kota-kota megapolitan. Tsunami setinggi 1,5 kilometer menyapu pantai hingga lereng gunung setinggi Himalaya. Orang-orang berlarian menyelamatkan diri tapi sia-sia menghindari jemputan maut.
Andai kiamat sungguh-sungguh terjadi di tahun 2012 seperti yang digambarkan dalam film tersebut, masihkah kita berpikir bahwa Tuhan itu baik? Dia yang selama ini kita kesankan baik sejauh memenuhi keinginan-keinginan kita tiba-tiba benar-benar menggunakan kuasaNya membuat kehancuran total atas kehidupan. Jika saat itu tiba, rasanya doa massal semua orang beragama sekalipun tidak cukup mujarab menghentikan kiamat, seperti yang tergambar juga dalam film 2012.
Haruskah kita merasa ngeri menonton film 2012? Tidak! Aku sendiri justru terpesona pada gambaran kiamat semacam itu. Andai kiamat sungguh-sungguh terjadi seperti di film 2012, kita akan mati bersama-sama sambil menyaksikan fenomena alam yang maha dahsyat dan menakjubkan.
Jadi, mengapa menakutkan kematian yang sudah pasti akan kita alami? Mati hari ini atau esok atau saat kiamat hanyalah soal waktu. Lebih baik “menikmati” pemandangan yang menunjukkan betapa besar kuasa Allah pada kehidupan dan alam semesta ini, itu pun jika kiamat akan terjadi seperti digambarkan film 2012. Lagipula, betapa “nyaman” mengalami kiamat seperti itu … kematian yang massif dan cepat, tanpa penderitaan yang berkelamaan.
Kita seharusnya justru menghawatirkan kiamat yang perlahan-lahan, tidak seketika. Kita sebaiknya mengkhawatirkan dunia yang kiamat oleh kondisi penderitaan yang berkepanjangan hingga menciptakan kematian dan kehancurann yang perlahan-lahan. Itulah kiamat yang dirancang, dilakukan, dan dibiarkan oleh manusia, lantaran kita sudah semakin tidak peduli pada sesama, kehidupan, dan lingkungan alam ini. Tuhan memang baik kepada semua orang. Sayang, kebaikanNya sering gagal kita hayati dan teladani.
Maka, daripada tiba-tiba pengin rajin berdoa andai kiamat sungguh terjadi tiga tahun lagi, mungkin lebih baik kita meneruskan sifat Tuhan yang baik kepada semua orang, berupaya keras bekerjasama menghindarkan masyarakat dan lingkungan hidup kita dari kehancuran akibat keserakahan dan ketidakpedulian kita. Bukankah dengan demikian terbuka kemungkinan Allah menciptakan kehidupan baru di akhir jaman tanpa perlu menghancurkan kehidupan lama? Apa sih yang tidak mungkin Dia lakukan?
Thanks for this information. I think someone need some help like this.