Membicarakan dan mendiskusikan perihal “keadilan” dalam konteks hidup sehari-hari di tengah situasi masyarakat Indonesia dewasa ini mungkin sudah terlalu akrab bagi kita. Namun, dalam tema “keadilan” yang sama, Surat Gembala Prapaskah Kepausan 2010 mendorong kita merefleksikan “keadilan” dalam perspektif yang berbeda. Jika selama ini cara pandang kita terhadap keadilan di satu sisi dan persoalan ketidakadilan di sisi lain biasanya diterpakan pada masalah relasi antara negara berhadap-hadapan dengan rakyat dan/atau antara korporasi berhadap-hadapan dengan rakyat, maka Paus mengajak kita merefleksikan keadilan dan ketidakadilan dalam relasi antar kita, sesama manusia, antarpribadi ciptaan Tuhan: bagaimana aku bersikap adil terhadap sesamaku? Lebih lagi, relasi antarpribadi sebagai landasan bersikap adil atau tidak adil tersebut melewati pertimbangan-pertimbangan di seputar pemenuhan hak-hak (dasar?) individu, melainkan menjangkau pula dasar sikap-sikap kita memberi nilai pada keberadaan individu tersebut: cinta Allah yang kita warisi.
Saya ingat pada salah satu dasar sikap hidup manusia yang diungkapkan Ignatius dari Loyola dalam Latihan Rohaninya: “… adaku adalah ada bersama adaku yang lain …”. Artinya, aku –manusia- diciptakanNya tidak dalam keadaan sendirian, melainkan selalu dalam posisi bersama dengan manusia dan ciptaanNya yang lain. Kondisi tidak sendiri atau bersama-sama ini melahirkan makna hidup kita yang tidak pernah bermakna tunggal, dan oleh karena itu relasi kita dengan Allah secara vertikal pun berintegrasi dengan relasi kita dengan Allah yang bersama dan di dalam hidup sesama di sekitar kita.
Maka, bersikap adil atas dasar cinta bukan sekadar memperlakukan sesama sebagai individu, melainkan bermakna pula sebagai cara bersikap terhadap sesama yang di dalamnya terdapat Allah yang hidup, menyertai, dan masih bekerja. Jika kita bersikap atas dasar cinta terhadap sesama, kita sesungguhnya sedang membuka kesempatan Allah bekerja dalam diri kita untuk membangun relasi yang adil dengan sesama kita. Sebaliknya, jika kita mengabaikan cinta dan adil dalam sikap hidup kita, sesungguhnya pada saat yang sama kita pun sedang menghambat campur tangan Allah dalam hidup kita, dan di situlah letak dosa. Dan Allah yang Maha Cinta dan Adil itu tidak pernah tinggal diam membiarkan setiap manusia dicengkeram dosa, maka Ia akan selalu bekerja membebaskan manusia. Nah, karena pada dasarnya proses pembebasan dosa tidak hanya terjadi secara orang per orang tapi terjadi secara kolektif, maka pembebasan Allah pun sesungguhnya terwujud dalam gerakan sosial, melalui gerak sekelompok kecil orang yang kemudian semakin lama semakin membesar/meluas pada periode-periode tertentu, tentu saja dengan proses jatuh dan bangun.
Maka, atas situasi ketidakadilan yang masih saja terjadi di Indonesia, karya pembebasan Allah –yang telah jutaan tahun dikerjakanNya melalui nabi-nabi dan bahkan dalam hidup dan gerak Yesus PutraNya sendiri- masih sedang terjadi sampai saat ini, dan sangat relevan dengan situasi kita di Indonesia dewasa ini. Itu ditunjukkan bukan lantaran masih banyaknya tindak dan situasi ketidakadilan di Bumi Pertiwi, melainkan ditunjukkan juga oleh masih tergeraknya sekian banyak orang yang masih punya mimpi tentang Indonesia yang adil dan damai dan untuk itu –melalui cara masing-masing- mereka membuka campur tangan Allah dalam diri mereka untuk membebaskan masyarakat Indonesia dari segala bentuk dosa ketidakadilan. Sebut saja, relevansi gerakan sosial pembebasan Allah itu bukan dalam konteks masalah/keprihatinan dasarnya, tapi relevan juga dalam konteks gerak dasarnya, yakni cinta Allah kepada manusia, yang akan selalu ada.
Gambar: http://www.brookes.ac.uk
keadilan berarti keseimbangan antara hak dan kewajiban yang berarti yin dan yang
Hello, I recently came accross your blog and have been reading along your posts. I decided I will leave my first comment. I have enjoyed reading your blog. Nice blog. I will keep visiting this blog very often…