Antara Egoisme, Ketidakadilan, dan Kegelisahan

March 4, 2010
By

Saat mengikuti sebuah proses studi dan refleksi melalui media elektronik-internet, khususnya mailing list, sebuah pertanyaan dilontarkan refleksi Pastor Joseph Adi Wardaya, SJ -moderator kami- tentang ketidakadilan dan egoisme. “Jika ketidakadilan disebabkan oleh struktur dan sistem yang tidak adil, yang berasa di luar kita, maka kita harus menyelesaikannya dengan membentuk struktur dan sistem tandingan. Namun bagaimana orang bisa melepaskan dirinya sendiri dari pengaruh egoisme ini lalu membuka dirinya terhadap kasih?”

Sebenarnya aku agak tergoda untuk menghindari diskusi/refleksi yang mempertanyakan akar penyebab ketidakadilan dari sisi personal individu manusia, seperti perihal egoisme. Karena semula aku pernah mengalami pendidikan yang mengajarkan segala ketidakberesan harus dipulangkan kepada disposisi sikap setiap individu masing-masing. “Yaah .. itu kembali ke individunya masing2 sih …” begitu ungkapan yang sering kita dengar dari banyak orang, jika ditanya bagaimana pendapat mereka tentang tindak-tindak ketidakadilan dan kejahatan. Paradigma di balik ungkapan itu adalah bahwa ketidakadilan dan kejahatan berakar dari cara berpikir, hati, dan sikap perorangan. Kesimpulannya, jika setiap orang pada dasarnya jahat, sampai kapan pun keadilan dan kebaikan tetap hanya akan menjadi mimpi indah di siang bolong, alias tak akan perah terwujud.

Namun, pada periode berikutnya, aku pun mengalami penyadaran bahwa di luar kemungkinan adanya potensi jahat dan tidak adilnya setiap individu manusia, terdapat sistem dan struktur sosial tertentu yang mempengaruhinya untuk berbuat jahat dan tidak adil terhadap sesama. Bahkan, tak jarang terjadi, kita harus bekerja keras untuk benar-benar terhindar dari sistem dan struktur jahat dan tidak adil itu hanya agar sikap kita berdasarkan nurani tetap menolak kejahatan dan ketidakadilan. Sayang, seringkali kita tidak berdaya dan akhirnya ikut arus kejahatan dan ketidakadilan itu.

Nah, kini manakala aku dihadapkan pada pertanyaan bagaimana orang bisa melepaskan diri dari pengaruh egoisme (yang menjadi akar kejahatan dan ketidakadilan), aku ingin mempertanyakan diriku sendiri terlebih dahulu: apakah aku masih cukup teguh-tegar-kuat untuk membebaskan diri dari pengaruh egoisme dari segala macam struktur dan sistem yang mempengaruhiku? Atau sebenarnya diriku pribadi pun masih terlalu rapuh, bahkan semakin lama semakin rapuh, atau semakin tidak peduli akan hal ini sehingga membuatku semakin rapuh pula berhadapan dengan pengaruh egoisme itu?

Pada saat-saat menuliskan refleksi ini, aku menyadari, bahkan tanpa adanya pengaruh yang cukup kuat mengalahkan keteguhan-ketegaran-kekuatan dalam diriku untuk menolak pengaruh egoisme dari luar pun seringkali aku justru membiarkan diri hanyut memihak arus egoisme tersebut. Aku merasa tubuh ini telanjur lebih nyaman dan klop (compatible) bergaul dengan egoisme ketimbang nilai-nilai sebaliknya (altruisme, empati pada kehidupan, dll.). Aku menyimpulkan, tubuh ini tidak membutuhkan kondisi, pengondisian, dan usaha keras jika ingin memihak egoisme. Sebaliknya, tubuh ini membutuhkan usaha keras, proses panjang, dan iklim sehat untuk memihak nilai2 sebaliknya.

Itulah kegelisahanku.

Namun, barangkali justru bermula dari kegelisahan itulah pintu penyelamatan terbuka. Aku tidak ingin muluk-muluk … Mungkin selamanya aku harus berjuang hanya untuk memperbesar daya pengaruh nilai-nilai kebaikan dan keadilan lebih daripada egoisme dan nilai-nilai kejahatan-ketidakadilan, dan mungkin aku akan lebih sering gagal daripada berhasil. Namun, asalkan aku masih mampu memelihara kegelisahan itu, aku yakin jalan hidupku masih sedang mengarah pada kebaikan sejati.

Tags: , , , , , , , , ,

5 Responses to Antara Egoisme, Ketidakadilan, dan Kegelisahan

  1. purwadi sabarno on August 5, 2010 at 11:08 am

    saya hanya belajar PASRAH secara total ternyata menghasilkan semua yang tak pernak aku bayangkan sebelumnya yang sebelumnya ada di dalam diriku yang negatif, akhirnya DAMAI yang aku dapatkan AMIN .

  2. Felico on August 6, 2010 at 10:59 am

    @Purwadi Sabarno, thx ud comment di sini. Ikut bahagia utk pengalaman batin yg Anda alami dg begitu indah.

  3. hengky effendy on September 17, 2010 at 3:36 pm

    Sejak awal, manusia punya 2 potensi sekaligus : menjadi jahat atau menjadi baik. Hal yang paling mempengaruhi perkembangan potensi tersebut adalah DOKTRIN & TELADAN dari lingkungannya.
    Doktrin bisa berupa komentar ringan tentang suatu peristiwa kecil, percakapan santai atau hal-hal yang sering dianggap sepele. Contoh : ada seorang ibu yang mengetahui anaknya punya pacar lebih dari satu. Ia hanya berkata ringan (dan sambil bercanda) “Tidak masalah. Kalau perlu tamabah lagi.” Ia tidak tahu bahwa ada anaknya yang paling kecil juga mendengarkan percakapan itu. Rupanya ia tidak sadar, bahwa seorang anak mudah dan cepat menyerap infomasi namun belum mampu menyaring.
    Teladan buruk yang sering dilihat oleh anak-anak adalah orangtua yang bersikap kasar, beribadah sambil mengobrol dan sering mengeluh.
    Banyak sekali contoh betapa seorang anak mudah sekali terpengaruh oleh lingkungannya,tanpa disadari oleh sang anak maupun lingkungannya. Mungkin saja pengaruhnya akan terbawa sampai sang anak menjadi dewasa.
    Ini pendapat pribadi saya, berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya.

  4. Purwanto on October 7, 2010 at 10:48 am

    [Quote]“Jika ketidakadilan disebabkan oleh struktur dan sistem yang tidak adil, yang berasa di luar kita, maka kita harus menyelesaikannya dengan membentuk struktur dan sistem tandingan. Namun bagaimana orang bisa melepaskan dirinya sendiri dari pengaruh egoisme ini lalu membuka dirinya terhadap kasih?”[/quote]

    HARUS SIAP dech….

  5. dorus on January 10, 2011 at 12:12 pm

    1. “setiap orang pada dasarnya jahat?” –> Kejadian: ketika Allah menciptakan dunia dan seisinya, selalu diakhiri dgn “…dan Allah melihat semua itu baik adanya…” jadi manusia pada dasarnya baik. namun setuju dgn pak hengky bahwa manusia punya 2 potensi.

    2. kayaknya menanyakan akar kejahatan: individu atau sistem adalah pertanyaan klasik ibarat menanyakan “duluan mana: ayam atau telur”. dua-duanya saling mempengaruhi dan saling dependen…

    kalo aku sih sekarang ini ndak usah muluk2, just do it dgn sistem yg ada, kalo ada sistem yg dirasa kurang bagus dan ingin dirubah, ya sampaikan sebisanya dan semampunya, sendiri atau bersama2 (skrg kan byk web jejaring sosial dan alat komunikasi lainnya)..yg penting sdh berusaha, hasilnya wallahualam…
    perubahan kan dimulai dari diri sendiri, tur rasah ngoyo…
    thanks…berkah dalem…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Hit Counter:

Website counter