<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>felico</title>
	<atom:link href="http://www.felico.info/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.felico.info</link>
	<description>situs kerja, refleksi, opini</description>
	<lastBuildDate>Thu, 15 Apr 2010 17:36:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Antara Egoisme, Ketidakadilan, dan Kegelisahan</title>
		<link>http://www.felico.info/2010/03/04/antara-egoisme-ketidakadilan-dan-kegelisahan/</link>
		<comments>http://www.felico.info/2010/03/04/antara-egoisme-ketidakadilan-dan-kegelisahan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Mar 2010 14:43:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Felico</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[adil]]></category>
		<category><![CDATA[ego]]></category>
		<category><![CDATA[egoisme]]></category>
		<category><![CDATA[felico]]></category>
		<category><![CDATA[felix]]></category>
		<category><![CDATA[gelisah]]></category>
		<category><![CDATA[keadilan]]></category>
		<category><![CDATA[kegelisahan]]></category>
		<category><![CDATA[ketidakadilan]]></category>
		<category><![CDATA[tidak adil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.felico.info/?p=535</guid>
		<description><![CDATA[Saat mengikuti sebuah proses studi dan refleksi melalui media elektronik-internet, khususnya mailing list, sebuah pertanyaan dilontarkan refleksi Pastor Joseph Adi Wardaya, SJ -moderator kami- tentang ketidakadilan dan egoisme. &#8220;Jika ketidakadilan disebabkan oleh struktur dan sistem yang tidak adil, yang berasa di luar kita, maka kita harus menyelesaikannya dengan membentuk struktur dan sistem tandingan. Namun bagaimana orang bisa melepaskan dirinya sendiri dari pengaruh egoisme ini lalu membuka dirinya terhadap kasih?&#8221; Sebenarnya aku agak tergoda untuk menghindari diskusi/refleksi yang mempertanyakan akar penyebab ketidakadilan dari sisi personal individu manusia, seperti perihal egoisme. Karena semula aku pernah mengalami pendidikan yang mengajarkan segala ketidakberesan harus dipulangkan kepada disposisi sikap setiap individu masing-masing. “Yaah .. itu kembali ke individunya masing2 sih …” begitu ungkapan yang sering kita dengar dari banyak orang, jika ditanya bagaimana pendapat mereka tentang tindak-tindak ketidakadilan dan kejahatan. Paradigma di balik ungkapan itu adalah bahwa ketidakadilan dan kejahatan berakar dari cara berpikir, hati, dan sikap perorangan. Kesimpulannya, jika setiap orang pada dasarnya jahat, sampai kapan pun keadilan dan kebaikan tetap hanya akan menjadi mimpi indah di siang bolong, alias tak akan perah terwujud. Namun, pada periode berikutnya, aku pun mengalami penyadaran bahwa di luar kemungkinan adanya potensi jahat dan tidak adilnya setiap individu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.felico.info/wp-content/uploads/2010/03/egoisme1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-537" style="margin: 0px 10px;" title="egoisme" src="http://www.felico.info/wp-content/uploads/2010/03/egoisme1-300x163.jpg" alt="" width="100" height="70" /></a>Saat mengikuti sebuah proses studi dan refleksi melalui media elektronik-internet, khususnya <em>mailing list</em>, sebuah pertanyaan dilontarkan refleksi Pastor Joseph Adi Wardaya, SJ -moderator kami- tentang ketidakadilan dan egoisme. &#8220;<em>Jika ketidakadilan disebabkan oleh struktur dan sistem yang tidak adil, yang berasa di luar kita, maka kita harus menyelesaikannya dengan membentuk struktur dan sistem tandingan. Namun bagaimana orang bisa melepaskan dirinya sendiri dari pengaruh egoisme ini lalu membuka dirinya terhadap kasih</em>?&#8221;</p>
<p>Sebenarnya aku agak tergoda untuk menghindari diskusi/refleksi yang mempertanyakan akar penyebab ketidakadilan dari sisi personal individu manusia, seperti perihal egoisme. Karena semula aku pernah mengalami pendidikan yang mengajarkan segala ketidakberesan harus dipulangkan kepada disposisi sikap setiap individu masing-masing. “<em>Yaah .. itu kembali ke individunya masing2 sih</em> …” begitu ungkapan yang sering kita dengar dari banyak orang, jika ditanya bagaimana pendapat mereka tentang tindak-tindak ketidakadilan dan kejahatan. Paradigma di balik ungkapan itu adalah bahwa ketidakadilan dan kejahatan berakar dari cara berpikir, hati, dan sikap perorangan. Kesimpulannya, jika setiap orang pada dasarnya jahat, sampai kapan pun keadilan dan kebaikan tetap hanya akan menjadi mimpi indah di siang bolong, alias tak akan perah terwujud.</p>
<p>Namun, pada periode berikutnya, aku pun mengalami penyadaran bahwa di luar kemungkinan adanya potensi jahat dan tidak adilnya setiap individu manusia, terdapat sistem dan struktur sosial tertentu yang mempengaruhinya untuk berbuat jahat dan tidak adil terhadap sesama. Bahkan, tak jarang terjadi, kita harus bekerja keras untuk benar-benar terhindar dari sistem dan struktur jahat dan tidak adil itu hanya agar sikap kita berdasarkan nurani tetap menolak kejahatan dan ketidakadilan. Sayang, seringkali kita tidak berdaya dan akhirnya ikut arus kejahatan dan ketidakadilan itu.</p>
<p>Nah, kini manakala aku dihadapkan pada pertanyaan bagaimana orang bisa melepaskan diri dari pengaruh egoisme (yang menjadi akar kejahatan dan ketidakadilan), aku ingin mempertanyakan diriku sendiri terlebih dahulu: apakah aku masih cukup teguh-tegar-kuat untuk membebaskan diri dari pengaruh egoisme dari segala macam struktur dan sistem yang mempengaruhiku? Atau sebenarnya diriku pribadi pun masih terlalu rapuh, bahkan semakin lama semakin rapuh, atau semakin tidak peduli akan hal ini sehingga membuatku semakin rapuh pula berhadapan dengan pengaruh egoisme itu?</p>
<p>Pada saat-saat menuliskan refleksi ini, aku menyadari, bahkan tanpa adanya pengaruh yang cukup kuat mengalahkan keteguhan-ketegaran-kekuatan dalam diriku untuk menolak pengaruh egoisme dari luar pun seringkali aku justru membiarkan diri hanyut memihak arus egoisme tersebut. Aku merasa tubuh ini telanjur lebih nyaman dan klop (<em>compatible</em>) bergaul dengan egoisme ketimbang nilai-nilai sebaliknya (altruisme, empati pada kehidupan, dll.). Aku menyimpulkan, tubuh ini tidak membutuhkan kondisi, pengondisian, dan usaha keras jika ingin memihak egoisme. Sebaliknya, tubuh ini membutuhkan usaha keras, proses panjang, dan iklim sehat untuk memihak nilai2 sebaliknya.</p>
<p>Itulah kegelisahanku.</p>
<p>Namun, barangkali justru bermula dari kegelisahan itulah pintu penyelamatan terbuka. Aku tidak ingin muluk-muluk … Mungkin selamanya aku harus berjuang hanya untuk memperbesar daya pengaruh nilai-nilai kebaikan dan keadilan lebih daripada egoisme dan nilai-nilai kejahatan-ketidakadilan, dan mungkin aku akan lebih sering gagal daripada berhasil. Namun, asalkan aku masih mampu memelihara kegelisahan itu, aku yakin jalan hidupku masih sedang mengarah pada kebaikan sejati.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.felico.info/2010/03/04/antara-egoisme-ketidakadilan-dan-kegelisahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta Dasar Keadilan</title>
		<link>http://www.felico.info/2010/02/22/cinta-dasar-keadilan/</link>
		<comments>http://www.felico.info/2010/02/22/cinta-dasar-keadilan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2010 16:04:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Felico</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.felico.info/?p=515</guid>
		<description><![CDATA[Membicarakan dan mendiskusikan perihal “keadilan” dalam konteks hidup sehari-hari di tengah situasi masyarakat Indonesia dewasa ini mungkin sudah terlalu akrab bagi kita. Namun, dalam tema “keadilan” yang sama, Surat Gembala Prapaskah Kepausan 2010 mendorong kita merefleksikan “keadilan” dalam perspektif yang berbeda. Jika selama ini cara pandang kita terhadap keadilan di satu sisi dan persoalan ketidakadilan di sisi lain biasanya diterpakan pada masalah relasi antara negara berhadap-hadapan dengan rakyat dan/atau antara korporasi berhadap-hadapan dengan rakyat, maka Paus mengajak kita merefleksikan keadilan dan ketidakadilan dalam relasi antar kita, sesama manusia, antarpribadi ciptaan Tuhan: bagaimana aku bersikap adil terhadap sesamaku? Lebih lagi, relasi antarpribadi sebagai landasan bersikap adil atau tidak adil tersebut melewati pertimbangan-pertimbangan di seputar pemenuhan hak-hak (dasar?) individu, melainkan menjangkau pula dasar sikap-sikap kita memberi nilai pada keberadaan individu tersebut: cinta Allah yang kita warisi. Saya ingat pada salah satu dasar sikap hidup manusia yang diungkapkan Ignatius dari Loyola dalam Latihan Rohaninya: “… adaku adalah ada bersama adaku yang lain …”. Artinya, aku –manusia- diciptakanNya tidak dalam keadaan sendirian, melainkan selalu dalam posisi bersama dengan manusia dan ciptaanNya yang lain. Kondisi tidak sendiri atau bersama-sama ini melahirkan makna hidup kita yang tidak pernah bermakna tunggal, dan oleh karena itu relasi kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.felico.info/wp-content/uploads/2010/02/love-justice2.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-530" style="margin: 0px 10px;" title="love-justice" src="http://www.felico.info/wp-content/uploads/2010/02/love-justice2-150x150.jpg" alt="" width="100" height="100" /></a>Membicarakan dan mendiskusikan perihal “keadilan” dalam konteks hidup sehari-hari di tengah situasi masyarakat Indonesia dewasa ini mungkin sudah terlalu akrab bagi kita. Namun, dalam tema “keadilan” yang sama, <a href="http://www.mirifica.net/artDetail.php?aid=6066" target="_blank">Surat Gembala Prapaskah Kepausan 2010</a> mendorong kita merefleksikan “keadilan” dalam perspektif yang berbeda. Jika selama ini cara pandang kita terhadap keadilan di satu sisi dan persoalan ketidakadilan di sisi lain biasanya diterpakan pada masalah relasi antara negara berhadap-hadapan dengan rakyat dan/atau antara korporasi berhadap-hadapan dengan rakyat, maka Paus mengajak kita merefleksikan keadilan dan ketidakadilan dalam relasi antar kita, sesama manusia, antarpribadi ciptaan Tuhan: bagaimana aku bersikap adil terhadap sesamaku? Lebih lagi, relasi antarpribadi sebagai landasan bersikap adil atau tidak adil tersebut melewati pertimbangan-pertimbangan di seputar pemenuhan hak-hak (dasar?) individu, melainkan menjangkau pula dasar sikap-sikap kita memberi nilai pada keberadaan individu tersebut: cinta Allah yang kita warisi.</p>
<p>Saya ingat pada salah satu dasar sikap hidup manusia yang diungkapkan Ignatius dari Loyola dalam Latihan Rohaninya: “… adaku adalah ada bersama adaku yang lain …”. Artinya, aku –manusia- diciptakanNya tidak dalam keadaan sendirian, melainkan selalu dalam posisi bersama dengan manusia dan ciptaanNya yang lain. Kondisi tidak sendiri atau bersama-sama ini melahirkan makna hidup kita yang tidak pernah bermakna tunggal, dan oleh karena itu relasi kita dengan Allah secara vertikal pun berintegrasi dengan relasi kita dengan Allah yang bersama dan di dalam hidup sesama di sekitar kita.</p>
<p>Maka, bersikap adil atas dasar cinta bukan sekadar memperlakukan sesama sebagai individu, melainkan bermakna pula sebagai cara bersikap terhadap sesama yang di dalamnya terdapat Allah yang hidup, menyertai, dan masih bekerja. Jika kita bersikap atas dasar cinta terhadap sesama, kita sesungguhnya sedang membuka kesempatan Allah bekerja dalam diri kita untuk membangun relasi yang adil dengan sesama kita. Sebaliknya, jika kita mengabaikan cinta dan adil dalam sikap hidup kita, sesungguhnya pada saat yang sama kita pun sedang menghambat campur tangan Allah dalam hidup kita, dan di situlah letak dosa. Dan Allah yang Maha Cinta dan Adil itu tidak pernah tinggal diam membiarkan setiap manusia dicengkeram dosa, maka Ia akan selalu bekerja membebaskan manusia. Nah, karena pada dasarnya proses pembebasan dosa tidak hanya terjadi secara orang per orang tapi terjadi secara kolektif, maka pembebasan Allah pun sesungguhnya terwujud dalam gerakan sosial, melalui gerak sekelompok kecil orang yang kemudian semakin lama semakin membesar/meluas pada periode-periode tertentu, tentu saja dengan proses jatuh dan bangun.</p>
<p>Maka, atas situasi ketidakadilan yang masih saja terjadi di Indonesia, karya pembebasan Allah –yang telah jutaan tahun dikerjakanNya melalui nabi-nabi dan bahkan dalam hidup dan gerak Yesus PutraNya sendiri- masih sedang terjadi sampai saat ini, dan sangat relevan dengan situasi kita di Indonesia dewasa ini. Itu ditunjukkan bukan lantaran masih banyaknya tindak dan situasi ketidakadilan di Bumi Pertiwi, melainkan ditunjukkan juga oleh masih tergeraknya sekian banyak orang yang masih punya mimpi tentang Indonesia yang adil dan damai dan untuk itu –melalui cara masing-masing- mereka membuka campur tangan Allah dalam diri mereka untuk membebaskan masyarakat Indonesia dari segala bentuk dosa ketidakadilan. Sebut saja, relevansi gerakan sosial pembebasan Allah itu bukan dalam konteks masalah/keprihatinan dasarnya, tapi relevan juga dalam konteks gerak dasarnya, yakni cinta Allah kepada manusia, yang akan selalu ada.</p>
<p><em>Gambar: http://www.brookes.ac.uk</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.felico.info/2010/02/22/cinta-dasar-keadilan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenang Gus Dur</title>
		<link>http://www.felico.info/2009/12/31/menentang-gus-dur/</link>
		<comments>http://www.felico.info/2009/12/31/menentang-gus-dur/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Dec 2009 22:40:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Felico</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[abdurrahman wahid]]></category>
		<category><![CDATA[felico]]></category>
		<category><![CDATA[felix]]></category>
		<category><![CDATA[gus dur]]></category>
		<category><![CDATA[katolik]]></category>
		<category><![CDATA[lintas agama]]></category>
		<category><![CDATA[pluralisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.felico.info/?p=456</guid>
		<description><![CDATA[1994, entah di hari, tanggal, dan bulan apa &#8230; kesempatanku bertemu dengan Kyai Haji Abdurrahman Wahid untuk pertama kalinya. Gus Dur, begitu ia singkat disapa, hadir menyumbang pemikiran dalam sebuah dialog bersama umat Katolik se-Kevikepan Solo di Aula SMA Regina Pacis. Seusai dialog, ia pun beranjak undur diri. Oleh Romo Adi Wardaya, SJ, pastor mahasiswa dan pendamping komunitas mahasiswa Katolik tempatku belajar waktu itu, aku diminta menyerahkan lima buku karya komunitas kepada Gus Dur. Sekadar kenang-kenangan &#8230; Kuduga, buku-buku itu diterimanya, lalu &#8230;. ya sudah &#8230; begitu saja. Eh, ternyata ia menjabat tanganku sambil mengucap terima kasih, lalu menyempatkan diri membuka-buka isinya sekilas sambil berjalan ke arah mobil yang akan mengantarnya. Sebuah perjumpaan yang mungkin tak terlalu istimewa, dan pasti bukan personal. Namun serasa diriku mendekat –dekat sekali—dengan pribadi yang hangat penuh persaudaraan. Saat itu sungguh tidak mudah menggeser sekat-sekat perbedaan antara aku, yang Katolik, minoritas, non-Muslim, dengan sosok seorang berpeci, bukan Katolik, representasi warga mayoritas, dan “super” Muslim, yang dengan kekuatan pengaruh kultural-politiknya mampu mempengaruhi jutaan warga Nahdliyin untuk melakukan apa saja saat itu. Tapi tatkala tangan ini bersentuhan dengan tangannya, serasa keterbukaan diri pada perbedaan dan kesahajaan pribadi yang menyetarakan antar manusia muncul dari dirinya dan menular ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-457" style="margin: 0px 10px;" title="Gus_Dur_02" src="http://www.felico.info/wp-content/uploads/2009/12/Gus_Dur_02-150x150.jpg" alt="Gus_Dur_02" width="100" height="100" />1994, entah di hari, tanggal, dan bulan apa &#8230; kesempatanku bertemu dengan Kyai Haji Abdurrahman Wahid untuk pertama kalinya. Gus Dur, begitu ia singkat disapa, hadir menyumbang pemikiran dalam sebuah dialog bersama umat Katolik se-Kevikepan Solo di Aula SMA Regina Pacis. Seusai dialog, ia pun beranjak undur diri. Oleh Romo Adi Wardaya, SJ, pastor mahasiswa dan pendamping komunitas mahasiswa Katolik tempatku belajar waktu itu, aku diminta menyerahkan lima buku karya komunitas kepada Gus Dur. Sekadar kenang-kenangan &#8230;</p>
<p>Kuduga, buku-buku itu diterimanya, lalu &#8230;. ya sudah &#8230; begitu saja. Eh, ternyata ia menjabat tanganku sambil mengucap terima kasih, lalu menyempatkan diri membuka-buka isinya sekilas sambil berjalan ke arah mobil yang akan mengantarnya.</p>
<p>Sebuah perjumpaan yang mungkin tak terlalu istimewa, dan pasti bukan personal. Namun serasa diriku mendekat –dekat sekali—dengan pribadi yang hangat penuh persaudaraan. Saat itu sungguh tidak mudah menggeser sekat-sekat perbedaan antara aku, yang Katolik, minoritas, non-Muslim, dengan sosok seorang berpeci, bukan Katolik, representasi warga mayoritas, dan “super” Muslim, yang dengan kekuatan pengaruh kultural-politiknya mampu mempengaruhi jutaan warga Nahdliyin untuk melakukan apa saja saat itu. Tapi tatkala tangan ini bersentuhan dengan tangannya, serasa keterbukaan diri pada perbedaan dan kesahajaan pribadi yang menyetarakan antar manusia muncul dari dirinya dan menular ke dalam pikiran, jiwa, dan tubuhku.</p>
<p>Sejak itu aku penasaran pada kyai yang satu ini. Apalagi seiring dengan gerak-gerik tingkahnya di kancah sosial politik Indonesia waktu itu, aku makin tertarik pada cara bepikir dan bersikapnya terhadap masalah bangsa.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Peristiwa demi peristiwa bangsa ini yang melibatkan peran Gus Dur aku ikuti, namun memoriku terlalu terbatas untuk mengingat semuanya. Kilas-kilas ingatan tentangnya muncul sejak dia terpilih sebagai Ketua Umum PBNU (1989) hingga terpilih menjadi presiden RI ke-4 (1999). Otakku lebih mudah mengingat kontroversi yang dilakukannya seperti menolak Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia/ICMI (1994), membubarkan Departemen Penerangan/Deppen yang “tukang breidel” dan Departemen Sosial/Depsos yang korup (1999), me-“libur nasional”-kan hari raya Imlek dan mengakui Konghucu sebagai salah satu agama resmi di Indonesia (2000).</p>
<p>Apalagi, lelucon-lelucon yang keluar dari gaya tuturnya yang ceplas-ceplos terlalu sulit dilupakan, seakan membunuh harapan peran (expected role) seorang kyai, cendekiawan, politikus, dan –sekaligus— negarawan seperti dirinya.</p>
<p>“<em>Yang saya hormati, Romo Kardinal, dan Ketua Panitia, Saudara Raymond Toruan &#8230; Raymond itu bahasa Arabnya Rahman </em>&#8230;” Begitu katanya di kalimat pertama sambutannya sebagai Presiden RI di Penutupan Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) tahun 2000. Kontan semua hadirin tertawa.</p>
<p>Sungguh, gaya bercanda yang tidak sekadar iseng dan mempertaruhkan momentum penting kepresidenan atau melecehkan lembaga agama tertentu. Namun, suatu terobosan penting bagi pemecah kebekuan prasangka antar umat beragama yang makin menggejala waktu itu, bahkan masih berlanjut hingga saat ini.</p>
<p>Nah, di situlah substansi sebuah gebrakan yang ditabuh Gus Dur. Demokratisasi. Kesetaraan hak warga negara melintasi perbedaan. Pluralisme. Atau apa pun namanya, yang jelas ia mengentalkan karakter-karakter kehidupan berbangsa yang sejak disiapkannya kemerdekaan negeri ini sudah dipupuk baik-baik oleh para bapak pendirinya.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>2009, hari Rabu, 30 Desember, selepas pukul 18 petang. Sesaat sebelum Gus Dur wafat, Romo Yohanes Dwi Harsanto Pr, Sekretaris Komisi Kepemudaan KWI mengunjungi seorang pasien beretnis Cina di RS Cipto Mangunkusumo, dekat dengan kamar tempat Gus Dur dirawat. Saat mendengar Gus Dur wafat, si pasien menangis sejadi-jadinya. &#8220;Kalau tak ada Gus Dur, bagaimana kami bisa lebih dihargai?&#8221; katanya sambil terisak.</p>
<p>Mungkin bukan sekadar terobosannya tentang Hari Raya Imlek dan agama Konghucu, peran sangat penting yang dibawakan Gus Dur adalah membangun sikap berbangsa dan bernegara yang anti-diskriminasi, saling menghargai dan menghormati sesama warga apa pun agama, etnis, dan aliran politiknya, suatu kesetaraan di mata hukum yang dilandasi penghargaan mutlak pada HAM.</p>
<p>Kini Gus Dur telah mangkat, mendahului kita memenuhi undangan Allah di negeri kehidupan abadi. Mungkin sama dengan yang dirasakan banyak orang, aku merasakan kehilangan. Haru makin menyeruakku saat membaca status Facebook seorang teman yang mengutip syair lagu Iwan Fals &#8230;</p>
<p>&#8220;&#8230; <em>Hujan air mata dari pelosok negeri, saat melepas engkau pergi &#8230; Terbayang baktimu, terbayang jasamu, terbayang jelas jiwa sederhanamu &#8230; Bernisan bangga, berkafan doa dari kami yang merindukan orang sepertimu</em> &#8230;&#8221;</p>
<p>Tapi, kau pikir, kita tak boleh terlalu hanyut dalam duka. Mari kita ingat saja keteladanan Gus Dur dan canda-candanya yang sarat makna. Semoga itu cukup menjadi bekal bagi kita yang ingin melanjutkan perjuangannya, membangun kehidupan bangsa dan tata kelola negara yang hormat pada hukum dan HAM, asas-asas keadilan, dan persaudaraan  sejati yang mengatasi perbedaan agama, etnis, stratifikasi ekonomi, maupun ideologi politik.</p>
<p>Selamat jalan, Gus Dur &#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.felico.info/2009/12/31/menentang-gus-dur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jika Kiamat Sungguh Terjadi di Tahun 2012 &#8230;</title>
		<link>http://www.felico.info/2009/12/29/jika-kiamat-sungguh-terjadi-di-tahun-2012/</link>
		<comments>http://www.felico.info/2009/12/29/jika-kiamat-sungguh-terjadi-di-tahun-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Dec 2009 12:25:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Felico</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[2012]]></category>
		<category><![CDATA[akhir jaman]]></category>
		<category><![CDATA[dunia]]></category>
		<category><![CDATA[felico]]></category>
		<category><![CDATA[felix]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[kiamat]]></category>
		<category><![CDATA[tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.felico.info/?p=441</guid>
		<description><![CDATA[Banyak orang ngeri menonton film 2012 dan khawatir jika kiamat sungguh terjadi seperti yang diilustrasikannya. Betapa tidak? Kiamat 2012 dikreasi begitu dahsyat dalam film itu. Benua dipatah-patahkan oleh gempa belasan skala Richter yang meluluhlantakkan kota-kota megapolitan. Tsunami setinggi 1,5 kilometer menyapu pantai hingga lereng gunung setinggi Himalaya. Orang-orang berlarian menyelamatkan diri tapi sia-sia menghindari jemputan maut. Andai kiamat sungguh-sungguh terjadi di tahun 2012 seperti yang digambarkan dalam film tersebut, masihkah kita berpikir bahwa Tuhan itu baik? Dia yang selama ini kita kesankan baik sejauh memenuhi keinginan-keinginan kita tiba-tiba benar-benar menggunakan kuasaNya membuat kehancuran total atas kehidupan. Jika saat itu tiba, rasanya doa massal semua orang beragama sekalipun tidak cukup mujarab menghentikan kiamat, seperti yang tergambar juga dalam film 2012. Haruskah kita merasa ngeri menonton film 2012? Tidak! Aku sendiri justru terpesona pada gambaran kiamat semacam itu. Andai kiamat sungguh-sungguh terjadi seperti di film 2012, kita akan mati bersama-sama sambil menyaksikan fenomena alam yang maha dahsyat dan menakjubkan. Jadi, mengapa menakutkan kematian yang sudah pasti akan kita alami? Mati hari ini atau esok atau saat kiamat hanyalah soal waktu. Lebih baik “menikmati” pemandangan yang menunjukkan betapa besar kuasa Allah pada kehidupan dan alam semesta ini, itu pun jika kiamat akan terjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-624" href="http://www.felico.info/2009/12/29/jika-kiamat-sungguh-terjadi-di-tahun-2012/2012-film/"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-624" style="margin-left: 5px; margin-right: 5px;" title="2012-film" src="http://www.felico.info/wp-content/uploads/2009/12/2012-film-200x200.jpg" alt="" width="100" height="100" /></a>Banyak orang ngeri menonton film <em>2012</em> dan khawatir jika kiamat sungguh terjadi seperti yang diilustrasikannya. Betapa tidak? Kiamat 2012 dikreasi begitu dahsyat dalam film itu. Benua dipatah-patahkan oleh gempa belasan skala <em>Richter</em> yang meluluhlantakkan kota-kota megapolitan. Tsunami setinggi 1,5 kilometer menyapu pantai hingga lereng gunung setinggi Himalaya. Orang-orang berlarian menyelamatkan diri tapi sia-sia menghindari jemputan maut.</p>
<p>Andai kiamat sungguh-sungguh terjadi di tahun 2012 seperti yang digambarkan dalam film tersebut, masihkah kita berpikir bahwa Tuhan itu baik? Dia yang selama ini kita kesankan baik sejauh memenuhi keinginan-keinginan kita tiba-tiba benar-benar menggunakan kuasaNya membuat kehancuran total atas kehidupan. Jika saat itu tiba, rasanya doa massal semua orang beragama sekalipun tidak cukup mujarab menghentikan kiamat, seperti yang tergambar juga dalam film <em>2012</em>.</p>
<p>Haruskah kita merasa ngeri menonton film <em>2012</em>? Tidak! Aku sendiri justru terpesona pada gambaran kiamat semacam itu. Andai kiamat sungguh-sungguh terjadi seperti di film <em>2012</em>, kita akan mati bersama-sama sambil menyaksikan fenomena alam yang maha dahsyat dan menakjubkan.</p>
<p>Jadi, mengapa menakutkan kematian yang sudah pasti akan kita alami? Mati hari ini atau esok atau saat kiamat hanyalah soal waktu. Lebih baik “menikmati” pemandangan yang menunjukkan betapa besar kuasa Allah pada kehidupan dan alam semesta ini, itu pun jika kiamat akan terjadi seperti digambarkan film <em>2012</em>. Lagipula, betapa “nyaman” mengalami kiamat seperti itu &#8230; kematian yang massif dan cepat, tanpa penderitaan yang berkelamaan.</p>
<p>Kita seharusnya justru menghawatirkan kiamat yang perlahan-lahan, tidak seketika. Kita sebaiknya mengkhawatirkan dunia yang kiamat oleh kondisi penderitaan yang berkepanjangan hingga menciptakan kematian dan kehancurann yang perlahan-lahan. Itulah kiamat yang dirancang, dilakukan, dan dibiarkan oleh manusia, lantaran kita sudah semakin tidak peduli pada sesama, kehidupan, dan lingkungan alam ini. Tuhan memang baik kepada semua orang. Sayang, kebaikanNya sering gagal kita hayati dan teladani.</p>
<p>Maka, daripada tiba-tiba <em>pengin</em> rajin berdoa andai kiamat sungguh terjadi tiga tahun lagi, mungkin lebih baik kita meneruskan sifat Tuhan yang baik kepada semua orang, berupaya keras bekerjasama menghindarkan masyarakat dan lingkungan hidup kita dari kehancuran akibat keserakahan dan ketidakpedulian kita. Bukankah dengan demikian terbuka kemungkinan Allah menciptakan kehidupan baru di akhir jaman tanpa perlu menghancurkan kehidupan lama? Apa <em>sih</em> yang tidak mungkin Dia lakukan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.felico.info/2009/12/29/jika-kiamat-sungguh-terjadi-di-tahun-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mungkinkah Peradaban Tanpa Kekerasan?</title>
		<link>http://www.felico.info/2009/09/03/mungkinkah-peradaban-tanpa-kekerasan/</link>
		<comments>http://www.felico.info/2009/09/03/mungkinkah-peradaban-tanpa-kekerasan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 15:49:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Felico</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[active non-violence]]></category>
		<category><![CDATA[aktif tanpa kekerasan]]></category>
		<category><![CDATA[felico]]></category>
		<category><![CDATA[felix]]></category>
		<category><![CDATA[gatki]]></category>
		<category><![CDATA[kekerasan]]></category>
		<category><![CDATA[non-violence]]></category>
		<category><![CDATA[pantang kekerasan]]></category>
		<category><![CDATA[peradaban]]></category>
		<category><![CDATA[tanpa kekerasan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.felico.info/?p=369</guid>
		<description><![CDATA[Peristiwa teror bom di hotel J.W. Marriot dan Ritz Carlton, Jakarta (17/7/2009), serta di banyak tempat di berbagai negara akhir-akhir ini, barangkali membuat kita bertanya-tanya. Mengapa kekerasan begitu memikat untuk dilakukan dan (bahkan) dipercaya punya daya ampuh untuk memecahkan masalah demi kepentingan tertentu dengan pembenaran atas dasar keyakinan tertentu? Pertama, karena terjadinya kekerasan hanya butuh naluri alamiah yang mudah muncul dari diri setiap individu manusia. Kekerasan diawali prasangka atau pikiran negatif yang jauh lebih mudah muncul daripada pikiran kritis dan positif yang membutuhkan pendidikan, kehendak untuk belajar dan berlatih terus-menerus. Kekerasan dipicu pelampiasan keinginan bebas yang jauh lebih mudah dilakukan daripada memunculkan sikap bertanggung jawab dan membatasi kebebasan dengan kesadaran adanya batas etis dan normatif atas perilaku. Marah sebagai reaksi kejiwaan spontan yang melahirkan tindak kekerasan jauh lebih mudah diaktualisasikan daripada bersikap sabar, toleran dan memaafkan. Kedua, karena kekerasan menemukan dukungan yang jauh lebih luas daripada sikap sebaliknya. Bukankah banyak pemaksaan dan tindak kekerasan yang telanjur diterima dan diyakni mampu menciptakan tertib sosial dan mengondisikan kehidupan bersama di tengah masyarakat menjadi lebih baik? Bukankah tindakan main hakim sendiri maupun ancaman hukuman terhadap pelanggaran hukum sama-sama didasari tindak kekerasan untuk menghentikan ancaman kekerasan yang lain, dan toh keduanya sama-sama diterima? Bukankah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-370" style="margin: 0px 10px;" title="monumen_pistol" src="http://www.felico.info/wp-content/uploads/2009/09/monumen_pistol-150x150.jpg" alt="monumen_pistol" width="100" height="100" />Peristiwa teror bom di hotel J.W. Marriot dan Ritz Carlton, Jakarta (17/7/2009), serta di banyak tempat di berbagai negara akhir-akhir ini, barangkali membuat kita bertanya-tanya. Mengapa kekerasan begitu memikat untuk dilakukan dan (bahkan) dipercaya punya daya ampuh untuk memecahkan masalah demi kepentingan tertentu dengan pembenaran atas dasar keyakinan tertentu?</p>
<p><em><strong>Pertama</strong></em>, karena terjadinya kekerasan hanya butuh naluri alamiah yang mudah muncul dari diri setiap individu manusia. Kekerasan diawali prasangka atau pikiran negatif yang jauh lebih mudah muncul daripada pikiran kritis dan positif yang membutuhkan pendidikan, kehendak untuk belajar dan berlatih terus-menerus. Kekerasan dipicu pelampiasan keinginan bebas yang jauh lebih mudah dilakukan daripada memunculkan sikap bertanggung jawab dan membatasi kebebasan dengan kesadaran adanya batas etis dan normatif atas perilaku. Marah sebagai reaksi kejiwaan spontan yang melahirkan tindak kekerasan jauh lebih mudah diaktualisasikan daripada bersikap sabar, toleran dan memaafkan.</p>
<p><em><strong>Kedua</strong></em>, karena kekerasan menemukan dukungan yang jauh lebih luas daripada sikap sebaliknya. Bukankah banyak pemaksaan dan tindak kekerasan yang telanjur diterima dan diyakni mampu menciptakan tertib sosial dan mengondisikan kehidupan bersama di tengah masyarakat menjadi lebih baik? Bukankah tindakan main hakim sendiri maupun ancaman hukuman terhadap pelanggaran hukum sama-sama didasari tindak kekerasan untuk menghentikan ancaman kekerasan yang lain, dan toh keduanya sama-sama diterima? Bukankah pelaksanaan nilai kedisiplinan dianggap mustahil jika tanpa paksaan dan kekerasan?</p>
<p><em><strong>Ketiga</strong></em>, karena kekerasan menjamin berlangsungnya kekuasaan yang perlu/harus diselenggarakan untuk mencapai kepentingan banyak pihak. Bukankah untuk melaksanakan kekuasaan, penguasa membutuhkan pembenaran dilakukannya tindak kekerasan? Bukankah kekerasan harus dilembagakan (dalam militer, kepolisian, penjara, dsb.) untuk mendukung kekuasaan itu?</p>
<p><strong>Kekuasaan dan Kekerasan<br />
</strong>Kekuasaan dan kekerasan merupakan dua hal yang berbeda tapi integral, seperti dua sisi dalam keping mata uang yang sama, satu mendukung yang lain. Maka, di saat pengaturan roda kehidupan publik diserahkan kepada sebuah kekuasaan, maka kekerasan menjadi halal untuk diterapkan.</p>
<p>Max Weber melukiskan negara sebagai pengaturan manusia berdasar sarana yang sah, yaitu kekerasan. Itu senada dengan pemikiran Karl Marx tentang negara yang sah melakukan kekerasan dalam pengaturan kehidupan sosial. Meski pandangan semacam itu mengesankan fungsi kekerasan negara bersifat defensif terhadap ancaman, namun dalam banyak kasus fungsi kekerasan negara itu dilangsungkan secara ofensif pula, tanpa menunggu ancaman, untuk mempertahankan kekuasaan itu sendiri.</p>
<p>Sementara menurut Hannah Arendt, dalam keadaan terpaksa, kekerasan dijadikan alat terakhir pemerintah dalam menghadapi tindak kriminal dan huru-hara atau pemberontakan yang mengancam keselamatan perorangan/masyarakat. Namun, kekuasaan negara dapat diselewengkan menjadi kekerasan yang menghancurkan.</p>
<p>Hal itu menginspirasi kelompok lain yang miskin kekuasaan. Mereka pun berusaha memperoleh kekuasaan dengan menciptakan kekerasan. Itulah mengapa membiarkan ketertindasan dan keterpurukan masyarakat warga dalam waktu yang panjang sangat berbahaya bagi keadaban publik. Karena situasi miskin kekuasaan menyebabkan mereka tidak punya kekuatan tawar-menawar hingga sering dikorbankan secara politik dan ekonomi.</p>
<p>Situasi miskin kekuasaan ini mendorong mendorong mereka untuk menggunakan kekerasan dalam merebut kekuasaan atau menciptakan kekuasaan relatif dalam ruang-ruang tertentu yang masih mungkin bisa dikuasai. Situasi inilah yang bisa menjelaskan demo warga memprotes pilkada yang tidak adil, unjuk rasa buruh menuntut kenaikan UMR, aksi preman minta jatah kelola parkir sering melahirkan tindak kekerasan. Mereka sedang miskin kekuasaan, tapi butuh kekuasaan untuk melangsungkan kepentingan masing-masing.</p>
<p><strong>Peradaban Tanpa Kekerasan: Mungkinkah?<br />
</strong>Frederico Mayor, <em>Director-General of UNESCO</em>, memproklamirkan tahun 2001-2010 sebagai dekade internasional untuk suatu budaya damai dan tanpa kekerasan. Proklamasi ini dilatarbelakangi oleh semakin maraknya situasi kekerasan dalam kehidupan masyarakat di berbagai belahan dunia dalam berbagai bentuk.</p>
<p>Melalui proklamasi tersebut, PBB mengajak warga dunia untuk lebih serius merintis perdamaian dan mengikis situasi kekerasan. Ajakan itu menginspirasi sebuah pertanyaan utopis: mungkinkah mengupayakan peradaban tanpa kekerasan? Sementara, kekerasan telah menjadi warisan peradaban manusia sejak lama, hingga teolog Walter Benyamin pernah menuliskan, dalam sejarah dunia, tak pernah ada peradaban manusia yang dicapai tanpa melalui kekerasan.</p>
<p>Mayor menuliskan, adalah suatu ramalan mementum dalam korespendensi Albert Einstein dan Sigmund Freud pada tahun 1932. Freud berspekulasi bahwa untuk kali pertama, penghapusan  peperangan tampak mungkin, karena dua faktornya: disposisi kultural manusia dan suatu ketakutan yang beralasan atas wujud bahwa perang masa depan akan digunakan. Meskipun kini peperangan masih berlangsung di beberapa negara dengan berbagai alasan, dan perang masih menjadi ancaman di banyak negara lain, sepertinya kedua faktor yang disebut Freud tersebut mulai bekerja.</p>
<p>Kontrol masyarakat dunia terhadap pengambilan keputusan politik antar negara atau intern negara tertentu dalam penggunaan kekerasan pun semakin intensif, berkat dukungan media massa dan kecanggihan teknologi internet. Pada saat yang bersamaan, banyak negara bergandeng tangan untuk melawan perusakan lingkungan, pemanasan global, perdagangan manusia, dan kesenjangan ekonomi antar negara sebagai wujud kekerasan struktural yang menjadi musuh bersama warga dunia dewasa ini.</p>
<p>Arus gerak langkah menuju terciptanya peradaban dunia tanpa kekerasan itu harus diikuti setiap individu dan komunitas, melawan setiap bentuk kekerasan, mempraktikkan sikap hidup pantang kekerasan, dan mentransformasikan suasana hidup bersama yang adil dan damai sejak perkara-perkara kecil sehari-hari. Alhasil, suatu saat nanti, peradaban dunia tanpa kekerasan akan terwujud.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.felico.info/2009/09/03/mungkinkah-peradaban-tanpa-kekerasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

